Senin, 20 Maret 2017
Dia bangkit dari kursinya, meraih kotak-kotak itu dari atas rak buku dan meletakkannya di atas meja tulis. Dia membolak-balik cepat halaman-halaman kertas itu, dan segera menemukan yang dicarinya:
Salah satu dasar segala permasalahan etika adalah aturan emas atau prinsip resiprositas: Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Namun, aturan emas ini tidak bisa lagi hanya menyangkut dimensi horizontal---yaitu "kita" dan "orang lain." Kini, telah disadari bahwa prinsip resiprositas juga mempunyai dimensi vertikal: Perlakukanlah generasi selanjutnya sebagaimana engkau telah diperlakukan oleh generasi sebelumnya.
Sesederhana itu. Cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Dan itu tentu saja harus mencakup "tetangga" generasi atau generasi selanjutnya. Ini harus melingkupi seluruh makhluk yang akan hidup di Bumi sesudah kita.
Umat manusia di Bumi ini tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup hanya dalam satu kurun waktu. Telah hidup umat manusia sebelum kita, lalu kita yang hidup saat ini, dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu-kesatuan. Kita harus memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja mereka hidup di planet ini sebelum kita.
Sesederhana itu aturan mainnya. Jadi, kita tidak boleh mewariskan bumi yang lebih buruk daripada saat kita tinggali. Jumlah ikan di laut yang lebih sedikit. Air minum yang lebih sedikit. Makanan yang lebih sedikit. Hutan tropis yang lebih sedikit. Alam pegunungan yang lebih sedikit. Terumbu karang yang lebih sedikit. Gunung es dan jalur-jalur ski yang lebih sedikit. Jenis flora dan fauna yang lebih sedikit...
Keindahan yang lebih sedikit! Keajaiban yang lebih sedikit! Kemuliaan dan kebahagiaan yang lebih sedikit!
*Disalin dari lembar novel karya Jostein Gaarder-Anna. En fabel om klodens klimak og miljo terjemahan Bahasa Indonesia.
Senin, 13 Maret 2017
bersepeda yuk
bersepeda memang ndak gampang butuh keberanian tekad menghalau kemalasan. bagaimana tidak, di sekeliling kita sudah penuh moda transportasi yang cepat, enak dan tanpa bersusah payah tinggal ngeeng. tak perlu berpeluh cukup duduk manis di atas jok.
namun bersepeda tetap saja menjadi salah satu pilihan bukan saja menyehatkan juga ramah lingkungan. sudah tahu kan kalo bersepeda minim gas buang yah kalo pun ada alingan gas buang si pengendara *dibaca kentut :)
namun bersepeda tetap saja menjadi salah satu pilihan bukan saja menyehatkan juga ramah lingkungan. sudah tahu kan kalo bersepeda minim gas buang yah kalo pun ada alingan gas buang si pengendara *dibaca kentut :)
Langganan:
Komentar (Atom)